"Pa, liat deh ini. Bagus kan ?" Aku mencoba memperlihatkan gambar di tabloid milikku.
"Apa sayang, bawa sini coba ?" Kata papa yang sudah mulai tertarik melihatnya.
"Ini pa, bagus kan? Lita pengen ini pa. Lita juga udah bilang sama temen-temen sekolah Lita kalau Lita bakal dapat ini dari papa." Aku masih mencoba merayu papa.
Papa cuma tersenyum, tapi aku sangat yakin kalau papa pasti bakal ngasih kado itu pas aku ulang tahun dan syukuran lulusan bulan depan, karrna aku ini satu-satunya harta papa dan aku segalanya bagi dia. Sementara mama, dia sekarang sudah menikah lagi dengan pengusaha di Medan. Tetapi, mama masih tetap selalu mengunjungi aku.
Keesokan harinya, aku ceritakan kembali perihal kado apa yang akan aku dapatkan dari papa kepada semua teman-temanku. Kepercayaan diriku lah yang membuat semua teman-temanku juga yakin aku akan mendapatkan ipad keluaran terbaru apple itu.
"Wah, hebat kamu Lit. Itu kan mahal banget. Seri lamanya aja aku belum punya. Aku juga mau dong dapat kado kayak kamu." Seru Seli
"Iya nih, aku boleh ikut nyoba dong. Kita kan sahabat". Sinta juga tidak mau kalah
Aku cuma tersenyum bangga membayangkan itu akan menjadi milikku. Di sekolahku memang belum ada yang punya kayak gituan. Yang punya laptop aja masih bisa dihitung berapa biji.
***
Hari itu akhirnya tiba, hari ulang tahun aku ke-18 sekaligus pesta syukuran kelulusan aku. Semua teman-teman aku undang karena sekalian perpisahan dengan teman-teman sekolahku. Dan Kado dari papalah yang aku tunggu. Lantunan lagu ceria "J-rock" dibawakan band teman sekelasku menambah semakin hidup pestaku.
"Selamat ulang tahun sayang" Kata pap lirih
Aku heran, kenapa bungjusan kado dari papa begitu kecil dan sangat tidak mungkin untuk menampung isi ipad itu. Saat itu pula, aku membuka bingkisan kecil itu. Semua teman-teman memperhatikan aku. Tetapi, betapa terkejutnya aku ketika aku hanya mendapatkan selembar sapu tangan bertuliskan namaku dan namanya. Disana juga ada sebuah surat kecil yang tak ku sentuh sama sekali.
Aku melihat ke arah papa dengan garang. Papa cuma tersenyum simpul. Papa tidak mengerti jika itu menghancurkanku. Papa udah bener-bener membuatku malu di depan teman-temanku.
"Pa, Lita udah bilang kalau Lita cuma mau ipad itu. Lita nggak mau kado murahan kayak gini." Kataku kasar kepada papa. Aku nggak peduli lagi dengan papa maupun teman-temanku. Aku melihat papa tertunduk hampir menangis.
"Lita, tapi papa udah ..." Jawabnya Lirih
"Udah deh pa, Lita udah tau kalau papa udah gak lagi sayang sama Lita.Papa udah ngecewain Lita. Lita benci papa. Mulai sekarang Lita pergi dari sini. Lita milih ikut mama pa."
Aku masih menangis dan berlari menuju kamarku. Aku tidak lagi peduli dengan papa, teman, maupun pestaku. Aku sudah terlanjur hancur didepan teman-temanku dan pestaku juga terlanjur hancur gara-gara papa. Aku segera menelepon mamaku dan membereskan semua pakainku. Aku sudah membuat keputusan untuk meninggalkan papa.
***
Aku memutuskan untuk ke Medan. Aku juga kuliah di Medan dan semua biaya kuliah ditanggung oleh papa tiriku. Memang sih, agak risih serumah dengan orang yang tidak aku kenal sama sekali. Hal ini yang membuatku tidak nyaman. Akhirnya, aku lebih memilih kos untuk menghindari papa tiriku. Kesibukan aku dikampus dan tempat kost ku membuat aku jarang pulang dan itu menyelamatkan aku.
Sempat
beberapa kali papa menelponku atau rumahku tapi aku tak pernah
menggubrisnya. Sebenarnya aku merindukannya tetapi saat ingat kejadian
itu aku kembali membencinya dan berusaha menghilangkan perasaan rindu
ini.
Hari
ini, ibuku menelpon dan memberi kabar yang membuatku menyesal. Ibu
bilang, papaku meninggal karena demam berdarah. Segera aku berkemas dan
meninggalkan kota baruku menuju
kampung halamanku. Ku buka pintu rumah pelan-pelan. Tidak jauh berbeda dari sebelum
aku pergi. Ku susuri pelan tiap koridor rumah itu. Teringat masa-masa itu.
Teringat senyuman ayah yang mampu membuatku tenang. Aku menangis berharap dia
kembali bersamaku. Aku ingin mengucap kata maaf yang sia-sia itu.
Kulihat
bingkisan kecil itu diatas meja. masih utuh seperti waktu terakhir kukembalikan pada papa. Kubuka dan ku
ambil sapu tangannya. Dibawah sapu tangan itu ternyata ada sebuah surat tulisan tangan ayahku yang bertanggal
sehari sebelum hari ulang tahunku.
15 Juni 2010
Lita, selamat ulang tahun putriku. Kamu pasti kaget dengan kado Lita ini kan ? Papa ingin melihatku ngambek dulu sebelum kamu melihat kado sebenarnya yang sudah papa simpan di atas meja kerja papa. Sapu tangan ini juga bukanlah tanpa makna, ayah ingin Lita membawa kemanapun sapu tangan ini saat Lita pergi. Dari itu, Lita akan tau kalau sapu tangan ini akan selalu ada saat Lita butuh begitu pula dengan ayah, ayah akan selalu ada saat Lita butuh. Selamat ulang tahun putriku, Papa menyayangimu.
Papa
Segera aku berlari ke kamar papa. Ipad itu masih ada didalam kardus berdebu diatas meja kerja papa. Memang sudah lama, tetapi aku masih hafal dengan ipad keluaran apple yang aku inginkan di hari ulang tahun itu. Aku angkat pelan dan ku nyalakan, saat itu wallpaper dilayarnya foto aku dan papa. Aku merindukan papa. "Papa, maafkan Lita." Aku masih terus terisak dan tiba-tiba semuanya gelap.

0 komentar:
Posting Komentar